Harus Desain Indonesia, Bukan Menjiplak

Diana Nazir

Kita cukup bangga ketika membaca “made in Indonesia”, tapi apakah sudah betul-betul menjadi produsen produk Indonesia? Punya produk desain asli Indonesia bukan sekadar bangga tapi juga pendapatannya lebih tinggi.

Diana Nazir, arstitek dan desainer produk

Tiga buah dining chair warna biru muda berjajar di dekat meja kasir Arthura Showroom di Kemang, Jakarta Selatan. “Wiron dinning chair untuk private dining,” kata Diana Nazir, founder Arthura, menjelaskan. Inspirasi dining chair diambil dari karakteristik kebudayaan Jawa Tengah. Sekilas memang tak ada beda dengan dining chair pada umumnya bahkan tak menunjukkan warna-warna tanah sebagaimana ciri khas Jawa Tengah. Diana mengambil teknik wiru (teknik melipat kain untuk bawahan kebaya) diaplikasikan pada kain penutup di bagian belakang sandaran.

Tak hanya untuk kursi, Diana mengambil ide dari bentuk tusuk konde untuk membuat rak. Bentuk dan lekuk tusuk konde diaplikasikan dalam bentuk rak berbahan metal dan kuat. Selain itu, ia juga menggunakan ide gunungan dan tokoh pewayangan dalam membuat produk desain interior dan mengaplikasikannya ke dalam sebuah desain interior yang sarat dengan muatan lokal.

Even itu five stars hotel, 70% harus menggunakan produk lokal dan 30% baru menggunakan barang impor,” ujar alumni Diana, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Trisakti. Menurutnya, seorang desain interior punya kewajiban untuk mengajari klien dan memberikan desain yang terbaik yang sesuai dengan karakteristik klien. Termasuk bagaimana mengaplikasikan desain dan produk lokal di fasilitas publik (termasuk hotel dan apartemen) yang menjadi kliennya. Kalau ada produk yang terpaksa impor alasannya karena Indonesia belum bisa membuat dengan kualitas bagus. Pengalamannya menangani klien berbagai negara, kualitas selalu menjadi pertimbangan penting setelah desain. Jadi, tidak lagi soal impor atau lokal.

Decoding Indonesia

Java Blues Dining Chair, karya Diana Nazir. Detail kursi menggunakan wiru (cara melipat kain khas Jawa). Foto: Dok. Diana Nazir.

“Kekayaan Indonesia yang luar biasa itu, kita ingin mengambil ide benar-benar dari Indonesia,” kata Diana menyampaikan kegelisahannya. Sejauh ini, banyak produk desain interior buatan Indonesia tetapi desainnya dari luar. Jadi pekerja Indonesia hanya menjadi “tukang jahit” dan penjiplak. Tanpa menisbikan peran seorang tukang jahit, tukang jahit di sini dimaksudkan sebagai orang yang hanya menyambung-nyambungkan bahan sesuai dengan order desainer sementara desainer dari luar negeri. Ketika produk tersebut diaku buatan Indonesia, memang betul dibuat di Indonesia, tetapi tidak dari ide desainnya.

“Keluarlah dengan desain karakter Indonesia,” harap Diana. Kekhasan karakter dalam sebuah produk tak hanya soal gengsi dan identitas tetapi juga soal pendapatan yang akan didapatkan. Bila barang didesain dan diproduksi sendiri maka hasil yang didapatkan akan lebih banyak.

Untuk mendapatkan karakter Indonesia, perlu decoding Indonesia, hal yang sudah kerap dilakukan desainer asing. Sebuah upaya untuk menyusun kode dan karakteristik dari Indonesia menjadi suatu produk yang laku di pasar internasional.

Melihat sebuah proses panjang dari ide hingga produk tersebut sampai kepada konsumen khususnya konsumen di seluruh dunia tak mungkin bisa dilakukan oleh seorang desainer sendirian. Beberapa desainer interior sudah melakukan dan berhasil menjual produk ke pasar luar negeri, hanya saja proses itu membutuhkan energi lebih, terkadang menyita energi untuk mendesain. Kegelisahan ini yang menjadikan Diana semangat mendukung berdirinya TALA (The Archipelago Living Art), sebuah perusahaan sosial yang diiniasi oleh Mak TH, seorang eksportir produk interior.

“Bu Mak sudah 30 tahun lebih mengekspor produk premium, sehingga tahu banget kualitas barang dan pemasarannya ke seluruh dunia,” kata Diana. Di TALA, Diana merasa mendapatkan jawaban dari tantangan bisnis dari sebuah produk. Ketika desainer interior dan pekerja lainnya bergabung di TALA, maka urusan produksi hingga ke pemasaran akan dipikirkan oleh TALA. Desainer hanya konsentrasi untuk menghasilkan desain yang bagus khas Indonesia yang diminati pasar dunia.

Teks: Titik Kartitiani/Foto:Prasto Wardoyo

Tentang Diana Nazir

Diana Nazir, biasa dipanggil Diana, alumni Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Jurusan Desain Interior, Universitas Trisakti. Sejak tahun 1992 mendirikan PT. Artura Insanindo, sebuah perusahaan konsultasi desain interior dan desain produk interior. Kini Diana menjabat sebagai koordinator desain untuk PT. Artura Insanindo.

Hasil karya desain interior bisa dilihat di Penthhouse Adityawarman (Jakarta), Swissbell Hotel (Ambon), Garuda Executive Lounge (Jakarta), Kemang Mansion, dan lain-lain. Untuk desain produk, Diana mendesain lampu, meja, kursi, sofa, dan interior produk lainnya. Kesemua desainnya mengambil karakter Indonesia, baik bentuk, warna, bahan, dan yang tak kalah penting adalah kisah di setiap desainnya. Produk interior karya Diana antara lain Wiron Dining Chair (2016), Jaring Hanging Lamp (2014), Tweet Tweet (2011), Wiron Sofa (2010), Domino Table (2009), Finger Linkin Light (2009), dan Room Service (2009).

Diana juga menjadi konsultan dan steering commite di berbagai event khusunya yang terkait dengan desain produk antara lain steering commite & curator of Indonesia  Designer’s Market (2016), steering commite of Pasar Desain Indonesia (2013-2014), constultant for Mozaik Indonesia, B2B trade fair platform for interior design and lifestyle (2010 dan 2012), consultant for CASA by Bravacasa (2015-2016). Pengalaman ini menjadi modal bagi TALA untuk mengkurasi produk Indonesia yang sesuai standar untuk pasar internasional.

Selain di bidang interior, Diana juga punya usaha di film dan lifestyle product. Ia mendirikan PT. Angka Fortuna Sinema yang menjadi produser ekesekutif film 9 Summers 10 Auntums. Di bidang lifestyle, Diana mendirikan Dsignershop by PT. Frontshop. Di bidang publikasi, Diana menjadi editor in chief satulingkar.com.

 

Kamis, 09 Maret 2017