Kita Bukan Plagiat Masa yang Sudah Lewat

Cosmas D. Gozali

Bangunan khas Indonesia kerap dipersepsikan sebagai bangunan adat yang lampau. Ketika membangun bangunan baru dengan memindahkan bangunan adat, Cosmas menyebut sebagai plagiat masa lalu. Kekhasan Indonesia melebihi ranah visual, lebih pada jiwa sebuah karya.

Cosmas D. Gozali, arsitek

Sejumlah 1441 anyaman berbentuk corong itu terhampar di Atelier Cosmas Gozali, Jakarta Barat. Sekilas berbentuk anyaman saja, berbahan rotan sintetis dengan ujungnya dibiarkan terjurai. Warna-warna mencolok, warna-warna bahwa laut, demikian kesan yang didapat. “No Boundaries Dream of Space, ruangan yang tanpa batas di bawah laut,” kata Cosmas menjelaskan karya instalasinya itu. Ketika TALA datang memang sudah tidak tertata, hanya saja detail yang ingin disajikan masih terlihat. Anyaman yang dihadirkan dalam karya kontemporer untuk mewujudkan sebuah ruang yang tanpa batas. Ruang tak terbatas itu dipresentasikan Cosmas sebagai ruang bawah laut.

Selain anyaman, Cosmas mengajak kami untuk menyusuri karya instalasi lainnya berjudul Space to Human Behavior. Potongan bambu yang dicat merah dirangkai sedemikian rupa membentuk lorong yang bisa dimasuki pengunjung. Sensasinya bila melangkah di dalamnya, maka lorong itu akan bergoyang dan bambu saling bersentuhan sehingga menghasilkan suara.

“Saya mau bikin bagaimana reaksi space terhadap human behavior,” kata Cosmas. Dunia adala ruang bagi manusia. Dunia akan bereaksi bila manusia melakukan sesuatu terhadap dunia. Jika kita bersikap baik maka dunia akan bersikap baik pada kita, begitu juga sebaliknya. Respon dunia ini digambarkan oleh Cosmas melalu gerak yang dihasilka ketika orang masuk ke lorong karyanya. Bila pengunjung berjalan pelan dengan langkah tenang, maka gerakannya akan halus, suara benturan bambunya pun lembut. Berbeda jika berjalan dengan langkah yang kasar, maka goyangan lorong akan kuat dan suara sangat ribut. Aksi dan reaksi perbuatan manusia terhadap bumi ini yang ingin ditampilkan Cosmas melalu karyanya.

Melihat karya Cosmas, kita takkan menyebut karya tersebut sebagai karya tradisional bila tradisional selalu mengacu pada budaya Nusantara. Menyebut budaya Nusantara selalu identik dengan klasik dan kuno. Benarkah demikian?

Memaknai Keindonesiaan dalam Kekinian Karya

Karya instalasi berjudul No Boundaries Dream of Space, menampilkan ke-Indonesiaan berupa kekayaan teknik menganyam yang dimiliki Indonesia. Foto: Dok. Cosmas D. Gozali.

“Kita membuat (desain) untuk masa depan, bukan untuk masa lalu,” kata Cosmas. Kalimat ini ia peruntukkan untuk karya-karya yang dinikmati dalam waktu yang panjang misalnya desain rumah, gedung, perabotan, hingga desain kota. Desain untuk masa depan artinya bila desain ini dilihat 20 tahun hingga 30 ke depan tidak lantas ketinggalan zaman. Bahkan untuk proyek-proyek yang selesai dalam jangka panjang, maka memerhatikan ke depan sangat penting.

Ketika seorang arsitek mendesain untuk masa depan, Cosmas menampik bahwa ia meninggalkan konteks keindonesiaan. Menurut Cosmas, konservasi bangunan tua khas Indonesia tak sama dengan mendesain yang mencontek masa lalu agar sesuai dengan konteks budaya Nusantara. Ke-Indonesiaan dalam sebuah karya tak selalu soal visual, tapi soal jiwa. Konteks dan isi akan melampaui visual yang tertangkap sehingga tak mengulang desain masa lalu karena mendesain untuk masa depan.

Lebih luas lagi, memaknai Indonesia dalam sebuah karya tak hanya soal hasil tetapi juga proses, teknik, fungsi, dan semua elemen dalam sebuah desain. “Masalah konservasi budaya itu menghargai sesuatu, kita bisa bicara tentang pengetahuan sebelumnya,” tambah Cosmas. Pengetahuan itu bisa berupa kebiasaan masyarakat yang ramah lingkungan dan bisa diterapkan di masa kini, teknologi, cara hidup, pemanfaatan material di sekeliling kita, dan lain-lain.

Sebagaimana dua karya instalasi Cosmas menggunakan teknik anyam dan bambu. Keragaman teknik anyam yang dimiliki masyarakat tradisional Indonesia secara turun temurun sungguh mengagumkan. Cosmas melakukan perjalanan keliling Asia Tenggara dan mendapatkan pengetahuan bahwa setiap negara punya teknik anyam dan tentu saja bahan anyaman yang berbeda. Kekhasan teknik anyam diaplikasikan ke dalam desain dengan materi rotan tiruan. Hasilnya desain modern yang masih punya “jiwa” Nusantara.

Begitu juga dengan bambu merah. Meski materi bambu banyak dipakai di Asia, hanya saja suara benturan bambu mirip angklung ini khas Nusantara. Selain itu, teknik ikat antar bambu diambil Cosmas dari pengetahuan tradisional juga.

Dominasi Visual dan Jiwa Sebuah Karya

Karya instalasi berjudul Space to Human Behavior, menggambarkan dampak yang ditimbulkan dari perbuatan manusia terhadap alam yang disimbolisasikan melalui gerak bambu. Foto: Dok. Cosmas D. Gozali.

Upaya mengambil pengetahuan tradisional merupakan upaya Cosmas untuk memberikan jiwa Indonesia di setiap karyanya. “Kalau kita hanya menangkap sesuatu hanya dari bentuk maka kita akan terbiasa oleh visual,” terangnya. Sementara sebuah karya lebih dari sekadar visual, melainkan isi di dalamnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah budaya sehingga menjadikan sebuah karya lebih lentur dan luas tanpa kehilangan keindonesiaannya.

Ia mencontohkan ketika membuat karya instalasi tentang candi Borobudur yang diberi judul Journey to the Serenity. “Saya ambil Borobudur, bukan dari bentuk Borobudur tetapi dari filosofinya,” kata Cosmas. Instalasi itu berupa kotak berukuran 2,5mx2,5mx3m. Saat penonton memasuki kotak itu akan merasakan filosofi dari candi Borobudur. Bila dilihat dari bawah, susunannya seperti candi mulai dari yang rendah sampai tinggi. Tebing candi dibuat seperti wind chimne yang akan bergerak, ketika sampai di tengah gerakan akan tenang hingga akhirnya diam. Itulah filosofi candi yang ingin disampaikan, pada tahap awal (pinggir) masih bersifat duniawi, sedangkan semakin ke tengah hingga puncak mencapai nirwana (serenity). Sebuah ketenangan.

Cosmas mengajak masyarakat untuk menikmati karya bukan hanya dari visual tetapi juga efek indra lainnya sampai pada jiwa dari karya itu. Memang tidak bisa sekali mencoba bagi yang belum terbiasa. Sangat mungkin juga sebuah karya bisa dimaknai lain oleh masyarakat. Tidak ada yang salah, pekerjaan rumah seorang arsitek adalah menjelaskannya ke klien dengan berbagai latar belakang dan kemauan. “Pengalaman saya setelah lebih dari 25 tahun menjadi arsitek adalah mengenal karakter manusia,” kata Cosmas.

Teks/Foto: Titik Kartitiani


Tentang Cosmas D. Gozali

Menamatkan pendidikan formalnya di Technische Universitats Wien, Vienna. Latar belakang teknik ini yang menjadikan karya Cosmas, khususnya karya instalasi, kuat sekali konstruksi dan kerap bermain-main dengan gerak antar elemen. Ia menyajikan karya-karya modern, futuristik, dan kontemporer dari berbagai material bahkan tak jarang material di sekitar kita. Karyanya tak hanya dipamerkan di Indonesia tetapi juga di berbagai negara.

Ia membangun Atelier Cosmas Gozali di bawah naungan PT. Arya Cipta Graha yang menghasilkan karya berupa real estate, urban design, apartemen, hotel, pusat perbelanjaan, dan juga hunian kelas atas. Selain itu, Cosmas juga konsen terhadap pendidikan. Ia kerap menjadi dosen tamu dan juga menjadi pembicara di seluruh Indonesia dan berbagai negara. Ia juga menulis buku berjudul Soul of Space (2012) berdasarkan keahliannya soal ruang dan pengalamannya sebagai arsitek.

 

Kamis, 09 Maret 2017