TALA Showtime, Saatnya Idealisme dan Komersial Terpajang Satu Etalase

TALA Showtime

Idealis vs komersial. Jika menjadi idealis maka harus rela miskin, sementara jika ingin menghasilkan uang maka harus meninggalkan idealisme. Betulkah demikian?

Pembicara TALA Showtime, dari kiri Eduardus Tri Aryo (desainer produk), Baskoro Junianto (kurator TALA), Mak TH (pendiri TALA), dan Francis Surjaseputra (desainer produk). 

“Menurut pengalaman Anda, bagaimana mempertemukan idealisme sebagai seorang arsitek dengan sisi komersial?” tanya salah satu perserta talkshow bertema TALA Showtime di CASA 2017, hotel Ritz Carlton, Jakarta, 2 Juni 2017. Pertanyaan tersebut ditujukan kepada Francis Surjaseputra, arsitek yang menjadi salah satu pembicara. Selain Francis, dua pembicara lain yaitu Baskoro Junianto (kurator TALA) dan Eduardus Tri Aryo (desainer produk ) dengan moderator Mak TH (TALA Indonesia).

Antara idealisme dan sisi komersial sudah menjadi dua kubu yang kerap menjadi pertentangan bagi para pekerja kreatif. “Di Indonesia, karya arsitektur (dalam wujud bangunan) belum dilihat sebagai aset,” kata Francis dalam menjawab pertanyaan. Aset masih berorientasi pada produk, belum desain. Sebab itu maka arsitektur yang mempunyai ide desain yang terkadang tak sesuai dengan kemauan pasar akan tersingkir. Bukan berarti tidak mungkin antara idealisme dan pasar bertemu sehingga akan dihasilkan karya yang sesuai dengan cita-cita para desainer.

“Selama ini kita hanya mengerjakan project kemauan klien. Maka setelah 2-3 tahun saya bergerak di jasa arsitek, pingin punya produk karya “idealis” itu. Untuk bisa dipasarkan,” kata Eduardus menjelaskan alasannya bergabung dengan TALA. Ia konsen pada produk rotan.

Perkara pasar juga menjadi pemikiran tersendiri bagi para desainer yang tak boleh ditinggalkan. Bukan saja soal uang meski faktor uang sangat penting untuk membiayai proses kreatif, desainer akan bangga jika karyanya digunakan oleh konsumen, bukan hanya dikagumi diri sendiri. “Saya sebagai desainer tidak tertarik untuk mempelajari pasar ini. Kami ingin konsen ke desain,” ujar Francis. Karena itu dibutuhkan pihak ke-3 untuk mengurasi dan memasarkan karya tersebut. Francis menambahkan, tidak pas ketika para desainer mengklaim karya mereka sendiri bagus. Bagi para desainer, tentu saja “anak-anak ide” yang dihasilkan semua bagus. Sama halnya seorang pelukis tidak mungkin mengatakan lukisannya bagus, kurator yang lebih pas mengatakannya. Sebab bila pelukis mengatakan lukisannya bagus, apakah orang lain khususnya pasar beranggapan sama?

“TALA Indonesia mewadahi ide dan produk kaum kreatif untuk kami pasarkan ke jaringan kami ke pasar dunia. TALA mengurasi karya sesuai permintaan pasar,” kata Mak TH ketika memperkenalkan TALA (The Archipelago Living Art/ Tanah Air Lintas Artistika) Indonesia. Kalimat tersebut menjawab kegelisahan Francis dan juga desainer lain soal pemasaran dan proses lain yang tak mungkin tertangani dengan sempurna oleh para desainer.

Antara DNA Karya dan Selera Pasar

Diskusi TALA Showtime yang dipandu oleh Mak TH, pendiri TALA, 2 Juni 2017.

“Saya saksi, desainer Indonesia bisa mendesain bagus. Desain mereka bisa dipasarkan internasional hanya ada syaratnya,” kata Mak TH yang juga importir furnitur bermerek kelas internasional. Syarat tersebut dimulai dengan desain yang bagus dan bahannya harus bagus misalnya memenuhi syarat ramah lingkungan dan awet. Syarat ini bisa dinilai oleh kurator. Setelah menjadi produk, perlu branding yang harus dikerjakan pihak lain, bukan desainer. Sementara sisi artistik dari karya yang khas dari desainer atau istilahnya DNA-nya takkan berubah. TALA Indonesia akan mengambil alih kerja-kerja di luar ide desain yang menjadi tugas utama desainer yaitu menghasilkan karya bagus.

Francis menambahkan, desain untuk sampai ke konsumen mengalami beberapa proses. Mulai dari mencari bahan, proses produksi, hingga memikirkan stok dan harga yang pantas di pasar. Tugas-tugas macam ini terlalu berat dan hasilnya tidak maksimal jika dikerjakan oleh desainer sendirian. Sementara peluang desain Indonesia dibeli masyarakat dunia masih sangat luas.

“Pasar dunia besar, produk kita baru mengisi 2% dari total pasar Eropa. Kita tidak perlu bersaing dengan Cina dengan produksi masalnya. Produk kita kerajinan tangan (craftmanship). Itu ciri khas kita. Jika Korea punya K-pop, kita punya craft,” kata Baskoro Junianto, kurator Bekraf. Pasar tersebut tidak bisa ditembus sendirian. Para desainer harus bekerja sama dalam satu wadah yang kuat untuk maju bersama-sama. TALA Indonesia mengumpulkan kekuatan tersebut.

“Satu hal yang tidak boleh dilupakan, sikap desainer sendiri,” pesan Mak TH. Sikap desainer yang ramah, tidak angkuh, dan etos kerja untuk menghasilkan karya bagus harus terawat. Kerja sama membutuhkan kerendahan hati. Inilah saatnya Indonesia punya nama di dunia internasional khususnya di bidang kreatif. Showtime of Indonesia!

Teks/Foto: Titik Kartitiani

Sabtu, 03 Juni 2017