Mengemas Kekinian Rempah, Jejak Ekspedisi Rasa Bermula

Casa 2017

Rempah. Orang-orang dari negeri dingin mengembangkan layar menuju pulau tropis yang tak terpetakan karena terpanggil oleh aroma dan rasa rempah.

Hanya orang kaya yang bisa membubuhkan merica di atas roti gandum yang berasa tawar, demikian tulis Jack Turner dalam buku Spice, The History of Temptation (2005). Ia menceritakan bagaimana para pemburu rempah mempertaruhkan apa saja demi bisa membubuhkan rasa di suap demi suap makanannya. Rasa rempah. Sebetulnya, dari sanalah ekspedisi orang-orang Eropa ke Benua Asia yang pada saat itu dianggap rimba tak berpeta. Warga Arab, Persia, Belanda, Spanyol, Inggris, dan Portugis berlayar demi rempah. Demi rasa yang dicecap dan melawan hawa dingin yang menggigit. Merica, jahe, kayu manis, dan segala macam keeksotikan rasa dan aroma diciptakan Tuhan di tetumbuhan rempah yang saat itu, hanya tumbuh di daratan tanpa peta, Asia. Tak terkecuali Ferdinand Magellan, berlayar melewati lingkar bumi dari Eropa menuju pulau rempah, Maluku.

Ferdinand Magellan dan krunya melakukan pelayaran dari Portugis ke Asia Timur untuk mencapai Maluku yang terkenal sebagai Pulau Rempah pada tahun 1519-1522. Ia bertolak ke barat mengarungi Samudra Atlantik, menuju pantai timur Amerika Selatan, mencari selat di antara Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik. Kini selat itu terkenal dengan nama Selat Magellan. Sampai di Kepulauan Massava (Filipina), rombongan Magellan mendapat perlawanan dari orang Mactan. Magellan tewas, kemudian digantikan oleh wakilnya, Kapten Yuan Sebastian del Cano. Ekspedisi Magellan-Cano ini adalah ekspedisi pertama di dunia yang mengelilingi dunia dan alasannya adalah rempah selain mencari negara jajahan.

Rombongan ini sampai di Maluku pada tahun 1521, memborong rempah, lalu kembali pulang Spanyol. Pulau itu sudah tercium aroma rempahnya dari ribuan kilometer jauhnya, demikian kurang lebih Gilles Milton membuka alinea ketika menuliskan buku Pulau Run (2015). Pulau Run terletak di Maluku Tengah, terkenal sebagai pulau rempah tempat pelayaran rempah berakhir. Dari sinilah interaksi warga Asia, khususnya Asia Tenggara dengan warga Eropa dalam bentuk transaksi dagang. Kemudian lama kelamaan menjadi penjajahan dan penaklukan berdarah. Semua bermula dari rempah.

Kekinian Rempah dalam Desain Interior

Kisah rempah dan keesotikannya menginspirasi Luthfi Hasan, desainer interior dari Jakarta Vintage yang juga patron desainer TALA Indonesia untuk mendesain instalasi pada pamerasan CASA 2017, 1-4 Juni 2017 di Ritz Carlton, Jakarta.
“Rempah kerap ditampilkan dengan tradisional. Saya ingin menampilkan rempah dalam sajian moderen. Dengan wadah keramik yang moderen,” kata Luthfi.

Karya berjudul The Beauty of Herbs and Spices berupa table setting dengan back drop desain grafis tanaman rempah. Tanaman ditampilkan dalam bentuk sketsa, terdiri dari cengkih dan beragam flora yang menghasilkan minyak esensial. Tak lupa, sketsa Ferdinand Magellan tampil di sisi kanan back drop.

Di atas meja, ditata beragam rempah yang diletakkan di atas keramik dan porselen. Merica, bawang merah, bawang putih, cabe, dan kelompok rimpang.

Tak hanya itu, Luthfi mengemasnya dalam collage artwork, scarf, kursi, dan juga lukisan. Melalui karya ini Luthfi ingin mengingatkan bahwa penjajahan atas Indonesia berawal dari rempah agar tak terulang lagi. Ia mengutip kalimat George Santayan, filsuf dan sastrawan asal Spanyol, those who do not remember the past are condemned to repeat it.

Teks/Foto: Titik Kartitiani

Sabtu, 03 Juni 2017