SR 1928-The Awakening, Piano Kebangkitan Sumpah Pemuda

Casa 2017

Piano bukan sekadar alat musik yang menghasilkan irama. Piano bagi Raul adalah imajinasi sebuah bentuk. Kolaborasinya dengan musisi Aksan Sjuman menyajikan piano yang tak hanya alat musik untuk telinga, tetapi keindahan visual, dan jiwa.

Raul Renanda dan prototipe SR 128- The Awakening

Raul Renanda, arsitek yang juga pelukis dan pianis, memainkan piano di salah satu booth CASA 2017, Ritz Carlton, Jakarta. Ia tenggelam dalam gerak jarinya meski lalu lalang pengunjung meramaikan pameran. Sesekali ia tersenyum pada pengunjung yang mampir ke booth-nya, lantas kembali lagi memainkan piano. Ia duduk di bawah naungan bentuk geometris warna putih. Bentuk-bentuk yang senada dengan bentuk piano karyanya. Piano yang ia mainkan berbahan besi, merupakan prototipe dari piano yang ia rancang dengan musisi Aksan Sjuman dan piano mastercraft, Frankie Lioe.

“Nanti piano yang akan dibuat dari kayu. Semua kayu. Panjangnya 380cm, lebar 95cm,” kata Raul ketika rehat memainkan piano. Ia mengistirahatkan jarinya sejenak sembari menjelaskan piano karyanya. Bentuk prototipe piano itu menggambarkan sebuah gerak, flow yang anggun. Raul mengatakan, ide dari bentuk piano SR 1928-The Awakening, demikian nama piano ini, dari kapal layar. Kini diletakkan di booth sebagai seni instalasi yang menggambarkan pulau-pulau di Nusantara. Piano itu mengapung seperti perahu layar yang mengelilingi pulau-pulau, demikian imajinasi Raul.

Di bagian atas terdapat ukiran yang terinspirasi dari motif parang (motif batik) yang dikombinasikan dengan bentuk lingkaran dari not balok. Detail ini ditambahkan untuk mengingat kekayaan karya Indonesia.

 

Kebangkitan 1928

“Saya suka memainkannya. Piano adalah alat musik yang cantik, yang dibuat manusia ratusan tahun silam,” jelas Raul tentang alasannya membuat alat musik ini.

Hanya saja bagi Raul tak berhenti pada membuat piano yang bisa menghasilkan musik indah. Ia juga menyukai desain sebagaimana seorang arsitek. Piano tak hanya kayu dan besi. Omong kosong ketika piano bisa didesain dengan imajinatif, anggapan selama ini. Piano berhenti pada fungsi sebagai alat musik, tetapi Raul ingin menghadirkan piano sebagai keindahan bentuk.

Membayangkan piano yang artistik, citra kapal layar bergerak di antara pulau-pulau Nusantara diceritakan kepada seorang musisi yang ahli membuat alat musik, Aksan Sjuman. Kolaborasi mereka menghasilkan desain SR 1928-The Awakening.

“1928 itu Sumpah Pemuda,” kata Raul. SR merupakan insial dari Sjuman dan Raul. Sebuah kegelisahan tentang kondisi negeri ini yang disampaikan melalui karya. The Awakening ingin membangkitkan kembali semangat persatuan Nusantara yang terdiri dari ribuan pulau. Kita pernah mengikrarkan persatuan itu pada 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda. Negeri ini menjadi kuat karena bersatu, bukan karena primordialisme. Ini yang ingin dikabarkan pada Indonesia dan dunia, dibuat di Indonesia untuk dunia. Sebagaimana yang dilakukan TALA di mana Raul sebagai salah satu desainer yang semangat mendukung TALA.

Piano itu kembali dimainkan Raul di booth. Bahasa musik adalah bahasa keindahan universal. Bahasa yang ingin disampaikan oleh SR 1928-The Awakening. Bangkitlah dan bersatu sebagai satu bangsa.

Teks/Foto: Titik Kartitiani

Minggu, 04 Juni 2017